TRANS-TURKI: Sang Pengembara 2
Ibnu Saud, Sang Penguasa Arabia

By bahri 15 Agu 2020, 07:35:45 WIB Ekowisata dan Kuliner
TRANS-TURKI: Sang Pengembara 2

Keterangan Gambar : Taif, kota penghasil sayur mayur dan buah buahan di Arab Saudi


Kesibukan mempersiapkan apa-apa yang mesti dibawa merupakan pekerjaan yang cukup lumayan mengasyikan. Pengurusan visa-visa,  yang Alhamdulillah karena partner perjalanan Zainul R. tinggal di Doha sehingga banyak membantu lancarnya urusan ini. Juga mempersiapkan perlengkapan yang perlu dibawa selama perjalanan, mulai dari beras, rice cooker, cemilan, makanan/lauk pauk dan kebutuhan logistik untuk anak-anak dan lain sebagainya. Tak kalah penting adalah kebutuhan untuk tunggangan, sebab kalau “beliau” ber ulah, bisa-bisa kita yang ditungganginya.



Baca Lainnya :

 

Hari Sabtu tanggal 28 Juni 2003, setelah shalat subuh dan safar, kami berlima (istri dan 3 anak) jam 04:30 berangkat menuju Doha menyinggahi Zainul Rahman (istri dan 2 anak). Sampai di kediaman Zainul, kami saling cek kalau ada hal-hal yang terlupakan, terutama kelengkapan surat-surat. Kalau ini tidak lengkap bisa fatal total.

Selanjutnya kami bergerak menuju perbatasan Qatar, Abu Samrah yang jaraknya 100 km dari Doha. Setelah melalui pemeriksaan surat-surat mobil dan imigrasi, kami keluar Abu Samrah jam 08:17.

Perjalanan di pagi segar, matahari berada dibelakang, mata tidak silau, membuat  pemandangan di padang pasir disekiling sangat menarik. Sesekali  terlihat rombongan onta, ada onta kuning, coklat dan onta hitam. Ada onta yang duduk-duduk dipinggir jalan membuat anak-anak bersorak melihatnya. Terpaksa mobil dipelankan sebentar untuk menjepretkan kamera. Sesekali ditemui tumpukan pasir halus di aspal yang terbawa angin dari padang pasir, membentuk Dunes mini diaspal.



Selanjutnya kami sampai ke border Saudi  Urusan paspor dan kendaraan cukup lancar. Petugas cukup ramah karena mungkin tahu kami dari Indonesia serta ada anak-anak sehingga pemeriksaan hanya sekedar saja. Setelah urusan selesai kami menuju Al Hufuf berjarak 156 km dari Abu Samra, sampai disini jam 10:05 dan seterusnya menuju Riyadh berjarak 328 km. Jarak tempuh ini cukup keras, mengarungi padang pasir yang panjang dipuncaknya musim panas yang suhunya mencapai 40-45 deg C. Ada sedikit rasa kuatir dengan tunggangan menghadapi cuaca yang ganas ini, sehingga perhatian sering tertuju ke jarum temperature.

 

Agak kelewatan kelihatannya bagaimana sebuah video kamera nongkrong di tripot pas di atas perseneling. Tongkrongan kamera ini agak mencolok. Tapi  dengan posisi kamera yang stabil ini menghasilkan kualitas gambar yang baik karena tidak goyang dan supir dengan mudah pegang sticknya, membidik objek yang menarik kekiri-kekanan. Mulai dari rumah kamera sudah menshoot objek yang dianggap penting dan menarik. Berhubung memori ini sudah lemah, tua dan banyak uban lagi,  sehingga kejadian-kejadian ini perlu direkam, manatahu suatu saat nanti rindu akan negeri-negeri yang dilalui ini, rekaman ini dapat diputar ulang untuk sekedar bernostalgia. 


Sejak kejadian pemboman di Riyadh beberapa bulan yang lalu, banyak sekali terdapat check point pemeriksaan. Rupanya nasib video ini tidak panjang, menjelang mencapai border Saudi di Al-Hufuf, di salah satu check point,  video kamera yang tadinya dengan anggun nongkrong di tripot,  mau tidak mau harus diturunkan karena dianggap menggangu keamanan dan dianggap memata-matai. Gara-gara video ini, urusan dengan tentara di post ini cukup lama. Akhirnya setelah mereka check isinya, kamipun diperbolehkan melanjutkan perjalanan. Tripot terpaksa dilipat, selanjutnya video di shoot dengan genggaman tangan saja, cuma akibatnya gambar yang dihasilkan agak goyang-goyang, pening kepala melihatnya. 


Jalan menuju Riyadh bagus sekali, highway, tiga jalur pergi, tiga jalur pulang. Kecepatan bisa 120-160 km/jam dengan nyaman dan menyenangkan.  Sempat  nyasar sebentar, disebabkan jalan yang ada di peta sudah jauh berbeda dengan kenyataan. Di peta jalannya dinyatakan dengan jalan biasa, ternyata sekarang sudah jadi highway, sehingga kami harus balik untuk cari jalan masuk ke jalur highway. Tengah hari kami cari tempat istirahat, makan dalam mobil saja dengan panganan bawaan dari rumah. Ketika keluar mobil untuk buka bagasi untuk ambil makanan, udara terik bercampur angin panas langsung menyengat kulit, pedih sekali. Setelah makan dan shalat di mushala, perjalananpun dilanjutkan. Sampai di Riyadh jam 14:30,  tadinya mau masuk kota, tapi ya sudahlah perjalanan dilanjutkan saja sebab Ta’if yang berjarak 762 km dari Riyadh harus segera di capai secepatnya.

 

Riyadh adalah pusat pemerintahan kerajaan Arab Saudi. Akhir abad ke 18 datanglah seorang dengan api agamanya untuk menyolder bangsa Arab menjadi satu umat, Muhammad ibn Abdul Wahab yang fanatik. Ia kikis habis segala bid’ah dan penyelewangan yang tumbuh dalam Islam. Akibatnya dia cukup teraniaya sampai suatu ketika dia mencari perlindungan di keemiran Nejd yaitu Muhammad ibn Saud yang memerintah kota Diriyah dan Riyadh. Saud adalah seorang Emir yang ambisius. Ia mengetahui martabat Abdul Wahab. Ia mengadakan perjanjian dengannya: Bersama melakukan dakwa dengan pedang. Mereka akan mengembalikan Arab kepada Islam yang sebenarnya. Hasilnya segera kelihatan, satu persatu suku-suku tunduk kepada mereka. Musuh-musuh mereka menjulukinya kaum Wahabi. Dipimpin oleh Saud, dikenal sebagai Saud yang Agung, mereka bergerak keluar Nejd menaklukkan dan meng”wahabi”kan dengan pedang. Dalam waktu 60 tahun, mereka telah menegakkan kekuasaan di seantereo Arabia, dari Mekah dan Medinah sampai ke teluk Persi, dari lautan India sampai pegunungan Libanon. Mereka penguasa padang pasir dan menolak mengakui kekuasaan kalifah dan sultan Istanbul. Mereka menyerbu Mesopotamia dan menghancurkan kota suci Kerbala. Mereka terus mendesak ke utara, menyerang Syriah dan pantai-pantai laut tengah, menyerang Aleppo merampas pinggiran Damascus dan menyerbu sampai ke Basrah.

Kemarahan orang Turki pun bankit. Turki memerintahkan Muhammad Ali, raja muda mereka di Mesir untuk bergerak ke Arabia. Muh. Ali mengalahkan kaum Wahabi dan mengirimkan pemimpinnya ke Konstinopel (Istanbul) dalam belenggu. Disana, didepan mesjid Aya Sofya yang ber alun-alun menghadap selat Bosporus, orang Turki memenggal kepalanya dengan upacara besar-besaran.

 

Laksana pasir diterpa angin, kekaisaran Wahabi dan Saud yang Agungpun lenyap. Nejd tinggal porak poranda. Orang Arab kembali pecah, bunuh membunuh, negeri penuh keganasan dan kekerasan.

 

Ketika muazin menyeruh azan shalat subuh pada bulan November 1880, dari Abdur Rahman dan istrinya Sarah lahirlah seorang keturunan Saud yang Agung di istana Riyadh. Seorang anak lelaki yang mereka beri nama Abdul Aziz, tetapi yang dikenal menurut nama nenek moyangnya sebagai Ibnu Saud. Ibnu Saud dibesarkan dilingkungan istana. Bapaknya Abdu Rahman adalah imam, pemimpin kaum Wahabi yang sangat fanatik,  keras, sangat sederhana,  membenci kemewahaan. Abdur Rahman hanya mempunyai satu tujuan dalam hidupnya. Baik dia atau kalau gagal, anaknya harus mendirikan kembali kekaisaran Saud yang Agung, menjalin seluruh Arab menjadi satu umat dan menjadikan mereka wahabi-wahabi yang taat.

Ibnu Saud tumbuh cepat menjadi anak yang semampai, tinggi dan bertulang keras, berotot keras, muka cekung mata tajam, hidung bak paruh elang, berkharisma dan berwibawa, penuh tenaga dengan watak yang bisa menyala seperti kilat dan bisa padam secepat datangnya. Akhirnya berkat kerja keras bersama ayahnya,  jatuh bangun, sampai-sampai mereka terbuang melarikan diri ke Kuwait, Bahrain dan Qatar cukup lama, karena derita  tekanan dari Rashid kepala suku kuat waktu itu. Namun akhirnya mereka kembali dan berhasil menaklukan jazirah Arab berkat bantuan asing (Inggris cs). Sampai saat ini jazirah ini di kuasai oleh turunannya.(*) [(*)di kutip dari buku: Jejak sang Penguasa, Riwayat Hidup Ibnu Saud pendiri kerajaan Arab-Saudi].

 

Dalam perjalanan dari Riyadh menuju Ta’if sekali-sekali ditemui dusun-dusun dan kebun-kebun. Melintas bukit-bukit batu yang teriris melintang secara alami dan rapi bewarna kuning, ditambah terpaan cahaya kuning matahari dirembang senja, merupakan pemandangan yang menakjubkan. Magrib kami berhenti sejenak di restoran yang dikelola oleh SASCO yang cukup  bagus, ada pom bensin, supermarket, mesjid, bengkel, toko onderdil dan motel,  malah ada  play ground sehingga anak-anak bisa main-main sambil mengendurkan otot. Setelah Magrib dan makan, perjalanan dilanjutkan

 

Perjalanan selanjutnya, seperti yang kami perkirakan, jalannya besar, mulus dan cukup ramai. Kadang-kadang masuk jalan dualcarriage, kadang-kadangs satu jalur.  Namun karena sudah malam pemandangan alam tidak dapat dinikmati, lagipula harus konsentrasi dengan jalan yang gelap. Musuh paling besar adalah ngantuk, terkadang kepala terangguk-angguk sambil nyetir, cukup beresiko memang, tapi ini harus ditancap terus supaya segera sampai di Ta’if.

Ada alasan kenapa harus dikebut masuk Taif malam itu juga. Sebab direncanakan waktu tinggal di Saudi cuma tiga hari sesuai dengan masa tinggal yang dibolehkan di Visa. Visa ini adalah visa transit (multi entry visa) bukan visa umrah, namun demikian dibolehkan dipakai untuk Umrah  terbatas. Oleh karena itulah kami harus cepat-cepat keluar daerah Saudi. Walau dapat cuma tiga hari,  rupanya penentuan lama tinggal di tanah Saudi tergantung dari asuransi mobil yang harus dibayar di border Saudi. Kalau mau tinggal seminggu,  bayar 70 SR. Namun demikian,  walaupun sudah bayar untuk seminggu,  keputusan sudah diambil sewaktu mau berangkat bahwa  di Saudi cukup tiga hari, untuk Umrah dan ke Medinah. Ini untuk tidak menggangu total schedule hari perjalanan yang direncanakan.

Rupanya badan memang sudah tua, terasa letih sekali menjelang Ta’if, mata sudah berat untuk dibuka, redup bak redupnya lampu 3 watt. Akhirnya berkat izinNya kami sampai di Ta’if jam 11:30 malam. Masuk hotel sederhana,  lansung istirahat, pulas semua. Tidak tahu lagi, mungkin terjadi kur dengkur yang merdu malam itu. Tapi tidur pulas tak lama sebab kami dibangunkan oleh azan Subuh dari mesjid sebelah hotel yang menaranya persis disebelah jendela kamar, sehingga kami tergelenjang bangun karena kerasnya suara azan.

 

Taif adalah sebuah kota tua di dataran tinggi, sekitar 5 ribu kaki diatas permukaan laut. Walaupun panas terik merata di seantareo Arab di akhir bulan Juni ini, di Ta’if agak sejuk, banyak angin. Oleh karena itu kota ini merupakan tempat peristirahatan para aristokrat Mekah, pangeran dan orang-orang kaya Arab yang banyak membangun vila-vila indah dan megah disana. Dalam Al Qur’an, Ta’if disebut dalam surah Az-Zukhruf ayat 31, yang artinya: ”Dan mereka berkata: Mengapa Al-Qur’an ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri (Mekah dan Ta’if) ini ?”. Dalam ayat itu, yang dimaksud dengan al-qaryataini adalah Mekah dan Ta’if (*).

Ta’if juga disebut dalam sejarah Islam ketika Nabi Muhammad SAW diboikot, diusir, dihina, dan disakiti oleh kaum Qurais Mekah. Peristiwa ini terjadi 2 tahun sebelum Hijrah. Nabi SAW pergi ke Ta’if dengan harapan mereka membantunya. Tapi yang diterimanya adalah perlakuan yang tidak kalah buruknya dengan perlakuan kaum Qurais Mekah.

Bagi dinasti Abbasyiah, kota Ta’if merupakan kota bersejarah karena disini terdapat kuburan Abdullah bin Abbas, yang dipandang sebagai Bapak Ilmu Tafsir, sebagai salah seorang nenek moyang keluarga Dinasti Abbasyiah, dan sebagai tokoh panutan bagi masyarakat Ta’if . Selain itu juga permaisuri khalifa Harun Al Rasyid berasal dari Ta’if. (*) [(*) dikutip dari Enseklopedi Islam].

 

Bagi kita yang akan naik haji dan umrah lewat darat dari Qatar, harus ke Ta’if dulu, sebab disinilah tempat miqat para jama’ah yang datang dari Nejd sekitarnya. Tempat miqat ini berada di daerah yang bernama Qurnul Manazil. Tempat ini memiliki fasilitas yang bagus, kamar mandinya bersih dan banyak, tempat parkir luas dan mesjidnya juga besar.

Siang,  sehabis Dhuhur tanggal 29 Juni, kami meninggalkan hotel menuju tempat miqat di Qurnul Manazil. Setelah mandi, ganti pakaian dengan pakaian ihram, shalat sunat,  kamipun bergerak perlahan menunju Mekah Al Mukaramah sambil melantunkan kalimat talbiyah bersama. Jalan menuju Mekah lebar dan mulus, kelihatannya jalan ini adalah jalan baru, highway, memotong bukit-bukit. Dulu waktu naik haji dengan bus tahun 2001, rasanya tidak melalui jalan ini, tapi melalui jalan agak kecil dan di kiri-kanannya bisa menyaksikan bukit-bukit batu cadas dari dekat yang irisan batunya sangat unik.

Sewaktu masuk kota Mekah, yang pertama dicari adalah hotel yang punya fasilitas  parkir yang aman (sebab akhir-akhir ini sering terjadi pengrusakan mobil-mobil dari luar Mekah oleh tangan jahil. Mungkin ini ada kaitannya dengan ketegangan paska perang Irak ).  Setelah masuk Mekah Tower, kamipun melakukan Umrah menjelang magrib. Masjidil haram dimusim panas ini lumayan  ramai tapi tidak sepadat seperti musim haji atau bulan suci Ramadhan.

Setelah Tawaf dan Sa’i sekeluarga, langsung kepala ini dan kepala Ali di botak, tahalul. Cuma dua hari di Mekah, sehingga setiap saat benar-benar dimanfaatkan untuk ibadah. Karena hotel berada dihalaman Masjidil Haram, sehingga cukup memudahkan terutama buat anak-anak.

 

Setelah 2 hari di Mekah kami menuju Madinah jam 12 siang, 1 July . Jarak  Mekah-Madinah 501 km. Jalan mulus, highway dua jalur pergi, 2 jalur pulang. Selama dalam perjalanan kami melewati padang pasir, bukit-bukit batu bewarna kehitaman, dan melewati desa-desa. Stasiun bensin juga banyak, cuma bensin super sulit ditemui, yang ada premium. Agak mengherankan juga, di negara kaya minyak ini sulit bensin super (mungkin premiumnya sudah high quality). Ada satu desa yang kami lewati, bernama Musammah (penulis jadi ingat dengan sobat kental di Arun dulu yang “gila jalan” juga, namanya Archiaston Musammah. Sambil nyetir, tersenyum kecil mengenang kembali adventure yang kami lakukan selama di Aceh dulu).

 

Sampai di Medina Al-Mukaramah menjelang magrib. Setelah dapat hotel sederhana, lalu ke mesjid Nabawi untuk magrib. Karena cuma semalam, waktu benar-benar digunakan untuk ibadah di Masjid Nabawi. [mengenai cerita tentang sejarah Masjid Nabawi ini sudah pernah kami tulis dulu secara lengkap dan rinci].

 

Madinah saat ini sudah sangat jauh dengan Medinah pada waktu pertama kali kami Umrah tahun 1999. Hotel-hotel murah, tokoh emas, restoran murah meriah, penjual Swarmah yang dulunya hampir mendominasi keliling mesjid, yang merupakan keunikan dan memberikan suasana yang berkesan dihati, sekarang sudah rata dengan tanah. Satu persatu berdiri hotel baru yang harga permalamnya cukup mahal bagi umat yang berpenghasilan sedang-sedangan.  Mungkin ini dalam rangka peremajaan lingkungan mesjid yang anggun dan cantik ini.

 

Setelah subuh di mesjid, sarapan,  jam 09:00 tanggal 2 Juli kami berangkat menuju perbatasan Yordan, Ma’an,  yang berjarak 762 km dan melewati kota-kota, diantaranya  Khaybar, Al-Ula, Tayma, Tabuk dan Al-Bir.

Selama perjalanan, pemandangan gurun pasir masih tetap mendominasi, tapi sekali-sekali ada juga melewati kebun-kebun korma. Disamping gurun dan kebun-kebun, bukit-bukit disini warnanya agak kemerah-merahan. Jalan cuma satu jalur agak sempit sehingga harus hati-hati jika berpapasan. Jalan satu jalur ini cukup panjang, sehingga membatasi kecepatan mobil. Tengah hari kami istirahat disebuah restoran kecil, pesan nasi kebuli. Sebagaimana di tanah Arab umumnya, kalau makan dengan keluarga harus di ruang khusus. Disini ruangan khususnya dibelakang restoran, seperti ruang tahanan, berjeruji. Makanan yang disajikan enak dan fresh.  Setelah makan, kendorin otot, shalat,  perjalanan dilanjutkan menuju kota Khaybar. Kota ini dulu  terkenal dengan perang Khaybar-nya, dimana Nabi Muhammad SAW berperang dengan kaum kafir Yahudi disini.


Kemudian selanjutnya menuju Tabuk. Perjalanan menuju Tabuk ini serasa  mengarungi padang pasir yang tak berujung, panas dan terik. Disini kami nyasar, karena sign board dijalan yang membingungkan, akhirnya setelah menyetop sebuah truk ditengah jalan untuk bertanya, kami kembali ke jalur yang benar menuju Tabuk. Kembali kami dikuatirkan dengan tunggangan terutama suhu tubuhnya dan “kaki”nya, kalau-kalau kempes atau bocor. Cuaca terik sekali, AC distel maximum.  Sampai di Tabuk jam 18:00, tapi masih siang terik. Kota ini lumayan besarnya.

 

Tabuk terkenal dulu dengan expedisi Tabuk yang dipimpin oleh Nabi Muhammad SAW, dimana tujuan expedisi ini untuk menyambut kedatangan pasukan Rumawi yang akan menyerbu masuk. Nabi SAW bersama pasukan terkenal dengan sebutan pasukan Usra (disebut demikian karena kesukaran yang dialami sejak mulai dibangunnya pasukan ini), berkekuatan tiga puluh ribu pasukan muslim, memimpin sendiri pasukan ini melewati daerah yang belum pernah dilalui. Menyonsong badai pasir, ada yang mati tertimbun pasir, mengarungi lautan tandus padang sahara kering yang akan menghadapi musuh terkenal dengan ketangguhannya yang telah menaklukan Persia. Hanya iman dan kecintaan  kepada Rasul SAW serta kemesraan kepada agama, mereka terjun menyambut seruan perang ini.

Berita pasukan besar yang dipimpin Nabi SAW yang mulai bergerak ke Tabuk untuk menyonsong pasukan Rumawi ini terdengar oleh pihak lawan. Setelah sampai di Tabuk, rupanya pihak Rumawi memilih mundur. Namun Nabi SAW tidak pula ingin pulang dengan sia-sia. Pasukan ini mulai menaklukan daerah sekitarnya. Khalid bin Walid diutus menaklukan Duma yang waktu itu merupakan sekutu Rumawi sebelumnya. Dengan mudah Duma (220 km dari Damsyik kejurusan Medinah) ditaklukkan dan Khalid membawa dua ribu ekor unta, delapan ratus kambing, ratusan gerobak gandum, dan ratusan pakaian besi. Semua diangkut ke Medinah menyusul Rasulullah, yang cukup memberi hiburan kepada pasukan dan penduduk Medinah(*)

[(*) - dikutip dari buku “Riwayat Nabi Muhammad SAW”.- Haekal.]

 

Allahhummasaliallah Muhammad wa ala ali wa’asbihi wa salim (Ya Allah besarkanlah olehMu akan Muhammad, akan keluarganya dan akan para sahabatnya dan berilah kesejehteraan kepada mereka sekalian). Berbagai perang kecil dan besar beliau maju kedepan memimpin, Khaybar, Tabuk, Khandak, Hunain, Uhud, dan Bad’ar. Keteladanan dan keberanian panglima besar pembawa risallah Allah SWT ini menjadi api keberanian bagi penerusnya Kulafaurasidin dan panglima-panglima perang yang gagah berani lainnya seperti Khalid bin Walid yang terkenal dengan julukan Syaifullah (Pedang Allah) sampai kepada sebagian umatnya saat ini. InsyaAllah api ini masih akan berlangsung sampai akhir zaman, walaupun kadang-kadang mengalami terang-redup dalam perjalanan waktu.

 

Melewati gurun, gunung batu dikala petang sungguh pemandangan mengagumkan. Sambil nyetir, perhatian tak lepas mengamati keunikan alam ini. Sungguh ciptaan Allah Maha Indah, Subhanallah. Menikmati km demi km, membuat mata tidak lelah, badanpun serasa segar kembali, kadang-kadang tunggangan kami lambatkan untuk menikmati alam ini dan video camera dihidupkan, sungguh sangat rugi kalau dilewatkan begitu saja.

 

Terbayang dalam pikiran, bagaimana expedisi Tabuk ini dilakukan oleh Rasullullah Muhammad SAW dan pasukannya dulu. Betapa sulit dan ganasnya medan yang mereka arungi melintas lautan pasir dengan kuda, onta dan jalan kaki. Allah Maha Besar, memperlihat kebesaran umat terbaikNya dulu kepada umat sekarang. Terasa kerdil sekali diri ini rasanya.

 

Dalam perjalanan banyak kami temui orang cuti pulang kampung  ke Yordan dengan mobil sedan, landcruiser yang di atas kapnya penuh dengan tumpukan barang-barang cukup tinggi, ada sepeda, kulkas, ada yang tumpukan barang-barangnya melebihi tinggi mobilnya dan ini melaju dengan kecepatan tinggi. Edan ! kami pikir, nekad betul orang-orang ini,  ini orang cuti atau pindah rumah. Selanjutnya kami sampai disimpang jalan yang sign boardnya menunjuk keberbagai arah tujuan, ada yang menuju Irak, Kuwait, Damam, Qatar, Yordan, Egypt. Kami belok kiri menuju Yordan.

 

Pas Magrib kami sampai di luar kota Ma’an,  perbatasan border Saudi. Urusan disini cukup lancar. Kemudian masuk ke border Yordan, disini karena masuk kota Yordan , cukup banyak urusannya, bayar ini-itu dan periksa bagasi. Disini kami makan malam di mobil sambil merenggang otot-otot. Alhamdulillah anak-anak masih gembira dan bergelut dan bercanda sesama mereka. Keluar perbatasan kami menuju kota Ma’an, sampai jam 10 malam. Cari penginapan, namun Ma’an adalah kota kecil tidak banyak hotel, hanya ada beberapa losmen. Penduduk disini ramah dan baik. Waktu kami kesulitan mencari hotel, dengan senang hati mereka menuntun kami dengan mobilnya ke hotel yang dimaksud tanpa pamrih. Kami dikasih tahu jalan ke Petra dan alternatif penginapan. Setelah berdiskusi, akhirnya diputuskan melanjutkan perjalanan ke Petra malam itu juga, sebab disana banyak hotel. Jalan menuju Petra menuruni lembah curam, tidak banyak yang bisa dilihat karena malam. Akhirnya jam 12 malam dengan mata yang sudah berat masuk hotel Movenpic, yang ternyata paginya, pintu gerbang Petra tersebut persis didepan hotel,  jadi kalau mau masuk lingkungan Petra tinggal jalan kaki.

 

 

 Bersambung……




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment