TRANS-TURKI: Sang Pengembara
Pengantar: Cerita perjalanan S. Tampo, putra Minang di Jazirah Arab Menapaktilasi kejayaan Islam

By bahri 14 Agu 2020, 06:50:57 WIB Ekowisata dan Kuliner
TRANS-TURKI: Sang Pengembara

Abu Abdullah Muhammad bin Abdullah bin Muhammad Al-Lawati At-Tunji adalah nama lengkap Ibnu Batutah, seorang pengembara besar muslim, punya karya besar  berupa catatan perjalanan petualangannya. Beliau hidup pada abad ke-14 M, dalam usia 20 tahun sudah mengembara keseluruh jazirah Arab, Afrika, Asia kecil, Afghanistan, Konstatinopel, India, tanah Melayu termasuk Aceh, Cina dan berakhir di Fes sampai akhir hayatnya. 

 

Abad pertengahan adalah abad2 kejayaan umat Islam, dimana banyak pengembara tanpa mempedulikan masa depan, meninggalkan keluarga tercinta, kampung halaman, demi satu cita-cita dan  tekad yaitu menyebar agama Islam keseluruh pelosok dunia.  Apa yang mendorong mereka melakukan ini, tak lain karena iman yang sangat kuat, haqul yakin akan jaminan Allah  SWT seperti firmanNya dalam surat Muhammad (47:7).

Baca Lainnya :

“ Hai orang2 yang beriman, jika kamu menolong agama Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”.

Timbul dalam pikiran, seandainyalah tidak ada para pengembara, para pembuka2 jalan, para pathfinder2 ini, rasanya kita2 di Indonesia ini masih beragama Hindu sampai saat ini.

 

Ada dua keinginan yang terpendam dalam hati sewaktu mulai bekerja di Qatar, dan rasanya ini juga cita2 hampir semua teman2 disini. Pertama, naik haji dan umrah. Kedua, melihat-lihat negeri2 di jazirah Arab dan tetangganya. Alhamdulillah keinginan pertama berkat izin dan kemudahan yang diberikanNya sudah terlaksana. Keinginan kedua, setelah lebih dari 4 tahun baru dikabulkanNya, Alhamdulillah.

 

Dua keinginan tersebut sebenarnya dianjurkan oleh Allah SWT. Haji dan Umrah, sudah jelas perintahNya dalam Al-Qur’an. Berjalan-jalan melihat bumi Allah ini juga tercantum dan dianjurkan oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an seperti beberapa ayat berikut ini:

19. Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan. 20. Supaya kamu menjalani jalan-jalan yang luas di bumi itu

(Nuh: 71:19-20).

 

21. Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi ini, lalu memperhatikan betapa kesudahan orang-orang yang sebelum mereka. Mereka itu adalah hebat kekuatannya daripada mereka dan (lebih banyak) bekas-bekas mereka dimuka bumi, maka Allah mengazab mereka disebabkan dosa-dosa mereka. Dan mereka tidak mempunyai seorang pelindung dari azab Allah.

(Al Mu’min: 40: 21)

 

15. Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezekiNya. Dan hanya kepadaNyalah kamu (kembali setelah) dibangkitkan. (Al Mulk: 67:15)

 

 

 

Sehingga perjalanan yang diniatkan ini didasarkan atas:

1.    Sejalan dengan perintah Allah SWT yang sepatutnya diikuti sebatas kesanggupan (Umrah dan melihat jejak kebesaran Allah di bumi ini).

2.    Menambah wawasan, melihat peradaban tua manusia mulai dari tanah Arab, zaman batu (Petra), Romawi kuno (Byzantium) dan abad keemasan Islam dan sekali gus melihat runtuhnya kejayaan mereka.

3.    Melihat keindahan alam dibelahan lain bumi Allah ini.

4.    Melihat keindahan dan keunikan budaya, keindahan wajah2 dan karakter penduduk setempat,  serta adat-adat istiadat setempat yang dilalui.

5.    Melihat kemajuan dan kemunduran perekonomian negeri orang.

6.    Membawa anak-anak berlibur panjang, rekreasi, dan belajar mengamati hal-hal diatas tsb.

 

Dari maksud diatas diharapkan diri yang papah dan lemah ini dapat berkaca. Setelah melihat jejak2 kebesaran Allah SWT dibumi baik keindahan alam ciptanNya maupun  karya2 manusia ciptakanNya, mudah2an dapat menambah keimanan.

 

Tujuan utama perjalanan ini adalah Turki. Untuk mencapainya harus melewati beberapa negara,  Saudi Arabia, Yordania dan Syria yang note bene merupakan negeri2 yang hampir sama tuanya dengan Turki.

 

Dari majalah2, brosur pariwisata serta buku2 sejarah, Turki merupakan negeri indah dan pernah menjadi negara Islam terbesar dan menjadi negara adi kuasa pada abad ke 13 menguasai dunia lebih kurang 7 abad lamanya pada zaman kerajaan Ottoman. Turki merupakan negara yang mempunyai peradaban dan kebudayaan tinggi, pernah mencapai abad keemasan peradaban (golden age) pada masa itu. Bagaimana keadaannya sekarang, seberapa tinggikah kebudayaan dan peradabannya pada waktu itu, apakah masih relevant dikatakan tinggi sampai saat ini ?. Apa sesuai dengan apa yang dikatakan buku-buku tersebut?. Namun yang pasti tentu ada tertinggal jejak2 peninggalannya di kota2 yang akan dilewati nanti. Begitu juga dengan keindahan alamnya yang merupakan merupakan pemasok devisa utama negara ini. Seberapa indah dan klasiknya negeri ini dibandingkan dengan photo2 di brosur2. Jangan2 photo2 tersebut dibantu oleh trik2 kamera. Dan seberapa jauh indahnya kalau dibanding dengan Indonesia. Kalau sekedar membaca buku sejarah  dan melihat photo2, rasanya kurang sreg untuk dinilai dengan seksama bagaimana negeri ini sesungguhnya, dan tentu kesan yang ditinggalkan juga kurang  dalam.

 

Mungkin karena punya niat yang sama dulunya, kami bertiga (Mohd Ilyasak dan Zainul Rahman) secara tidak sengaja memiliki kendaraan yang sama yang cukup pas untuk berpergian jauh. Kami sama2 punya 2-3 anak yang hampir sama besar, dan sudah kenal sejak sama2 jadi mahasiswa TK-ITB dulu, jadi rasanya klop betul rencana perjalanan ini.

 

Awal-awal  rencana berjalan dengan mulus, namun  tiba2 M.Ilyasak terbentur dengan urusan memperpanjang Resident Permit yang memakan waktu dan akan menyebabkan bisa diundurnya perjalanan, sedang waktu cuti masing2 sudah diatur pas dan tidak bisa dirubah. Akhirnya M.Ilyasak dengan berat hati mengundurkan diri dan melepas kami dengan doa.

 

Perjalanan yang memakan waktu hampir sebulan ini dimulai pada tanggal 28 Juni 2003 jam 5 pagi dan kembali dirumah tanggal 23 July jam 2 subuh dan Alhamdulillah berkat lindunganNya,  kami semua beserta istri dan anak2 selamat dan sehat walaafiat pulang pergi. Dari speedometer penulis, awal keberangkatan menunjuk angka 8,290 km dan sampai dirumah menunjukan 18,162 km, total jalan yang dilalui sekitar 10 ribu km yang dimulai dari Al-Khor, Riyad-Taif-Mekah-Medinah-Khaybar-Tabuk-Yordan (Petra-Amman-Dead Sea) –Sirya (Damascus-Homs-Hama-Allepo)- Turki (Iskenderun-Osmaniye-Adana-Ankara-Bolu-Instanbul) dan kembali melalui jalur berbeda dari Istanbul melalui Bursa-Kutahya-Antalia-Anamur-Mersin-Adana-Iskenderun-Syria dan Yordan. Dari Yordan menuju Qatar melewati Damman. Total km ini termasuk tour2 dalam kota.

 

Mudah2an cerita perjalanan ini dapat disajikan sebaik mungkin, sebab sebelum berangkat kami sudah siapkan perlengkapan yang dibutuhkan untuk itu, seperti video kamera, buku catatan, dan tape recorder kecil, sehingga setiap kejadian kami rekam (mulai dari jumlah bensin yang diisi,  jarak antar kota  dan jam2 sampai di kota tertentu di ke tiga media tsb, sehingga informasi yang akan disajikan mudah2an cukup baik dan ditambah lagi brosur2, road map dan city map yang didapatkan dipusat informasi turis sehingga sangat membantu untuk memperkaya informasi. Begitu juga partner perjalanan Zainul Rahman juga melakukan hal yang sama sehingga informasi yang direkam dapat saling melengkapi.

 

Maksud dari penulisan ini tentulah untuk mengenang kembali perjalanan yang boleh dikatakan unforgetable adventure lintas benua (Istanbul di daratan Eropah) yang rasanya sangat berharga dikewatkan begitu saja kalau tidak ditulis. Dan tentu  ingin berbagi pengalaman serta melengkapi pengalaman perjalanan yang pernah dilakukan oleh kawan2 yang duluan menjelajah sampai ke Turki dulu.

 

Kalau Ibnu Batutah adalah pengembara sejati, the real great pathfinder, sungguh apa yang kami lakukan ini sangat jauh dari yang apa beliau lakukan,  hanya sekedar menunggang Nissan Pathfinder untuk melihat-lihat jejak2 para great pathfinder dulu.

 

Bersambung……

 




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment