Prof. Suheimi : Puasa Loyo

By admin 10 Mei 2020, 00:51:01 WIB Kesehatan
Prof. Suheimi : Puasa Loyo

Puasa Loyo, kerna yang berpuasa itu memasang niat untuk loyo. Begitu dia  memasuki Bulan suci Ramadhan , maka dalam hatinya dalam fikirannya, kita siang akan kelaparan. Lapar dihubungkan dengan kurang kalori yang masuk. Akibatnya tentu akan letih, lemah dan lelah. Untuk itu harus istirahat dan loyo. Siang  mati kelaparan dan malam mati kekenyangan . Dalam keadan mati kelaparan dia loyo, kalau mai kekenyangan dia ngak bisa kerja.Niat untuk loyo dan untuk letih di mulai sejak dia akan memasuki puasa.

 

Sejak 1 Ramadhan yang terniat dan terbayang adalah  haus dan lapar, letih dan lesu. Maka bila ada pekerjaan di tunda sampai akhir  atau sesudah puasaa. Puasa di jadikan alas an menunda pekerjaan.  Orang pemaaf bulan puasa  jadi boleh saja tidak bekerja, dan kerja di tunda.. Kerna loyo dan malas bergerak  aliran darahpun tak kencang , metabolisme menurun sehinga  mudah sakit. Kalau Rasul berkata  Faidza Qudhiati shalah  fantasiru fil Ardh’ Selesai shalat bertebaran di muka bumi  cari rezkinya. Bergerak dan bekerja. Eh orang puasa ini selesai shalat subuh  bukan fantasiru tapi dia fantasimu. Tidur lagi.  Bangn  kira2 jam 7  matahari sudah tinggi, matanya berkunang, perutnya mual, badan jadi tak enak lesu.  Kerna anjuran agama dan anjuran kesehatan tak di turutinyaPadahal  Rasul berkata “Summu Tasihu” Puasalah agar kamu sehat pesan rasul, tapi banyak orang berpuasa justru sakit Puasa itu bulan meraup amal, jadi produktid, tapi banyak orang berpuasa loyo.

Baca Lainnya :

 

Puasa itu bulan kerja tapi banyak diantara kita yang justru menunda-nunda opekerjaan sesudah puasa. Bulan puasa banyak pahala, pintu sorga di buka selebar-lebarnya dan pintu neraka di tutup serapat-rapatnya  namun banyak orang mengerjakan maksiat juga di BulanSuci Ramadhan.

 

Maka semua tergantung pada niat kita. Jika memasuki puasa ini kita berniat , Kerna Allah tahu persis apa yang terniat, apa yang berdetak di hati. Dan Allah langsung me respon apa yang ada di hati. Kalau kita berniat malas  maka gelombang malas lah yang bergertar 

 

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkanoleh hatinya, dan Kami lebih kepadanya daripada urat lehernya, (QS. 50:16).

Merasa sedih, malas, loyo dan tak bergairah menyambut bulan suci Ramadhan Acapkali perasaan malas segera menyergap mereka yang enggan menahan rasa payah dan penat selama berpuasa. Mereka berasumsi bahwa puasa identik dengan istirahat, break dan aktifitas-aktifitas non-produktif lainnya, sehingga ini berefek pada produktifitas kerja yang cenderung menurun. Padahal puasa mendidik kita untuk mampu lebih survive dan lebih memiliki daya tahan yang kuat. Sejarah mencatat bahwa kemenangan-kemenangan besar dalam futuhaat (pembebasan wilayah yang disertai dengan peperangan) yang dilancarkan oleh Rasul dan para sahabat, terjadi di tengah bulan Ramadhan.Semoga ini menjadi motivator bagi kita semua, agar tidak bermental loyo & malas dan tidak berlindung di balik kata “Aku sedang puasa”.

 

Berlebih-lebihan dan boros dalam menyiapkan dan menyantap hidangan berbuka serta sahur Ini biasanya menimpa sebagian umat yang tak kunjung dewasa dalam menyikapi puasa Ramadhan, kendati telah berpuluh-puluh kali mereka melakoni bulan puasa tetapi tetap saja paradigma mereka tentang ibadah puasa tak kunjung berubah.

Dalam benak mereka, saat berbuka adalah saat “balas dendam” atas segala keterkekangan yang melilit mereka sepanjang + 12 jam sebelumnya, tingkah mereka tak ubahnya anak berusia 8-10 tahun yang baru belajar puasa kemarin sore sibuk makan sahur sehingga melalaikan shalat shubuh, sibuk berbuka sehingga melupakan shalat maghrib.

 

Para pelaku poin ini biasanya derivasi dari pelaku poin 3, mengapa ? Sebab cara pandang mereka terhadap puasa tak lebih dari ; “Agar badan saya tetap fit dan kuat selama puasa, maka saya harus makan banyak, minum banyak, tidur banyak sehingga saya tak loyo”. Kecenderungan terhadap hak-hak badan yang over (berlebihan).

 

 Menghabiskan waktu siang hari puasa dengan tidur berlebihan Barangkali ini adalah akibat dari pemahaman yang kurang tepat dari sebuah hadits Rasul yang berbunyi “Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah” Memang selintas prilaku tidur di siang hari adalah sah dengan pedoman hadits diatas, namun tidur yang bagaimana yang dimaksud oleh hadits diatas? Tentu bukan sekedar tidur yang ditujukan untuk sekedar menghabiskan waktu, menunggu waktu ifthar (berbuka) atau sekedar bermalas-malasan, sehingga tak heran bila sebagian -besar- umat ini bermental loyo saat berpuasa Ramadhan.

 

Lebih tepat bila hadits diatas difahami dengan; Aktifitas tidur ditengah puasa yang berpahala ibadah adalah bila ;

Tidur proporsional tersebut adalah akibat dari letih dan payahnya fisik kita setelah beraktifitas; Mencari rezeki yang halal, beribadah secara khusyu’ dsb.

Tidur proporsional tersebut diniatkan untuk persiapan qiyamullail (menghidupkan saat malam hari dengan ibadah)

Tidur itu diniatkan untuk menghindari aktifitas yang –bila tidak tidur- dikhawatirkan akan melanggar rambu-rambu ibadah Ramadhan, semisal ghibah (menggunjing), menonton acara-acara yang tidak bermanfaat, jalan-jalan untuk cuci mata dsb.

 

bulan Ramadhan yang seharusnya bersemangat menahan diri dan berbagi, ternyata malah memupuk semangat konsumerisme dan cenderung boros, dapat menggugah kita dari “fatamorgana Ramadhan”.




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment