PERAN dan FUNGSI PEMDA TERDEPAN DALAM IMPLEMENTASI DAN PELESTARIAN ABS-SBK di RANAH MINANG

By bahri 05 Jul 2020, 09:00:32 WIB Seni & Budaya Minang Kabau
PERAN dan FUNGSI PEMDA TERDEPAN DALAM IMPLEMENTASI DAN PELESTARIAN ABS-SBK di RANAH MINANG

Keterangan Gambar : Buya Masoed Abidin, Intelektual Ranah Minang


KOMPILASI ABS-SBK MINANGKABAU DALAM NAGARI DI SUMATERA BARAT ...  PERAN dan FUNGSI PEMERINTAHAN TERDEPAN DALAM IMPLEMENTASI DAN PELESTARIAN ABSSBK


Oleh : H. Mas’oed Abidin

Baca Lainnya :


Abad ini sedang berlangsung lonjakan perubahan menampilkan hubungan komunikasi informasi dan transportasi cepat yang berpengaruh kepada nilai-nilai tamadun yang sudah ada. Kekuatan Budaya MHA Minangkabau sebenarnya terikat kuat pada penghayatan Islam. Dimasa sangat panjang terbukti menjadi salah satu puncak kebudayaan dunia. Perubahan kini, desa‑desa yang terisolir telah terbuka jadi sentra perkebunan besar (seperti di Pasaman, Sitiung dan Solok Selatan). Gaya hidup panggang lutok (konsumeristis) telah menghipnotis warga hingga kedesa terujung. Malah berpengaruh besar menghilangkan kearifan budaya, tidak lagi mengukur bayang bayang sepanjang badan. Terjadi gadang pasak pado tiang.


Pergaulan muda‑mudi tidak mengenal sumbang-salah. Perkerabatan mulai menipis. Peran ninik mamak melemah sebatas seremoni.


Peran imam khatib sekedar pengisi ceramah. Surau dan Masjid lengang mati suri. Madrasah di nagari kurang diminati. Kedudukan orang tua hanya memenuhi keperluan materi anakcucunya.


Guru‑guru disekolah semata mengajar. Peran sentral pendidikan jadi kabur.


Kearifan MHA Minangkabau merancangbangun masyarakat terabaikan.


Gaya hedonis materialis dan individualis menghapus nilai nilai utama berat sepikul ringan sejinjing yang dulu jadi penggerak utama kegotong royongan membangun kampong halaman.


Mengatasi semua itu, amat perlu membangun peribadi unggul dengan iman dan taqwa, berlimu pengetahuan, menguasai teknologi, berjiwa wiraswasta, bermoral akhlak, beradat dan beragama.


Disini Peran dan Fungsi Pemerintahan Terdepan dalam Implementasi dan Pelestarian (nilai dan gerak aplikatif) ABSSBK mestinya berada didepan dan tidak boleh abai.


memengaruhi seluruh aspek kehidupan masyarakat nagari, berupa sikap umum dan perilaku serta tata-cara pergaulan dari masyarakat itu.

menjadi landasan pembentukan pranata sosial keorganisasian dan pendidikan yang melahirkan berbagai gerakan, produk budaya yang dikembangkan secara formal ataupun informal.

menjadi petunjuk perilaku bagi setiap dan masing-masing anggota masyarakat di dalam kehidupan sendiri-sendiri maupun bersama-sama.

memberi ruang dan batasan-batasan bagi pengembangan kreatif potensi nagari dan penduduknya dalam menghasilkan buah karya sosial budaya dan peningkatan ekonomi anak nagari, serta karya-karya dan keragaman pemikiran intelektual dan tampak sebagai folklore dan akan menjadi mesin pengembangan dan pertumbuhan Sumatera Barat di segala bidang.


Sebagai masyarakat beradat dengan adat bersendi syariat dan syariat yang bersendikan Kitabullah, maka kaedah-kaedah adat itu memberikan pelajaran strategis dalam penerapannya.


Mengutamakan prinsip hidup “keseimbangan” karena Islam menghendaki keseimbangan antara rohani dan jasmani. Keseimbangan pembinaan “Anak dipangku kamanakan di bimbiang, rang kampuang dipatenggangkan” seiring bimbingan Syariat Islam ; “Berbuatlah untuk hidup akhiratmu seolah-olah kamu akan mati besok dan berbuatlah untuk hidup duniamu, seolah-olah akan hidup selama-lamanya” (Hadist).

Kesadaran akan “luasnya bumi Allah” sehingga mudah digunakan. “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di didalamnya.” (QS.4, An-Nisak : 97), melahirkan budaya Marantau diiringi kemampuan meng-introdusir tenaga perantau merasakan denyut nadi kehidupan masyarakat di nagarinya melalui kebersamaan dan kecintaan kampung halaman sehingga berurat dihati umat dalam membangun kampung dan wilayahnya di mana bumi dipijak disana langit dijunjung.

Sebagai masyarakat beradat dan beragama ditanamkan sikap hati-hati “Ingek sa-balun kanai, Kulimek sa-balun abih, Ingek-ingek nan ka-pai, Agak-agak nan ka-tingga”. Memiliki jati diri tidak mau menjadi beban orang lain. Membiarkan diri hidup miskin adalah salah. “Kefakiran membawa kepada kekufuran ” (Hadist).


Membangun nagari muara pertama pada supra struktur pemerintahan nagari. Wali Nagari mestinya berperan sebagai kepala pemerintahan dan pimpinan masyarakat adat di nagarinya. Sebagai kepala pemerintahan terendah di nagari ada hirarki dengan pemerintahan dikecamatan atau kabupaten. Sebagai pimpinan dalam adat mesti berurat kebawah ditengah komunitas adat istiadat yang dijunjung tinggi anak nagari.


Strategi pemerintahan nagari bermula dari (a). kesediaan rujuk kepada hukum adat (norma yang berlaku di nagari) dan (b). kesetiaan melaksanakan hukum positf (undang-undang negara).


Disamping itu muara kedua, dukungan masyarakat adat (kesepakatan tungku tigo sajarangan yang terdiri dari ninik mamak, alim ulama, cadiak pandai, bundo kanduang dan kalangan rang mudo) dalam satu tatanan sistim pemerintahan (perundang-undangan).


Anak nagari amat berkepentingan dalam merumuskan nagarinya. Konsepnya tumbuh dari akar nagari itu. Lah masak padi ‘rang singkarak, masaknyo batangkai-tangkai, satangkai jarang nan mudo, Kabek sabalik buhus sintak, Jaranglah urang nan ma-ungkai, Tibo nan punyo rarak sajo. Perlu orang yang ahli dibidangnya.


Mestilah dipahami bahwa masyarakat nagari sesungguhnya tidak terdiri dari satu keturunan (suku) saja.


Ada beberapa suku asal muasal dari berbagai daerah di sekeliling ranah bundo. Sungguhpun berbeda, namun dapat bersatu dalam satu kaedah pemahaman masyarakat saling menghargai dan menghormati. Satu bentuk perilaku duduk samo randah tagak samo tinggi sebagai prinsip egaliter inilah prinsip demokrasi yang murni. Otoritas masyarakat sangat independen.


Maka langkah strategis yang penting adalah,


1. Menguasai informasi substansial.


2. Mendukung pemerintahan yang menerapkan low-enforcment.


3. Memperkuat kesatuan dan persatuan di nagari-nagari.


4. Muaranya adalah ketahanan masyarakat dan ketahanan diri.


Strategi pengamalan ABSSBK di Nagari adalah menggali potensi dan asset nagari. Mengabaikannya pasti mendatangkan kesengsaraan bagi masyarakat adat itu.


Pranata sosial Masyarakat Beragama semestinya berpedoman (bersandikan) kepada Syarak dan Kitabullah. Maka kekerabatan yang erat menjadi benteng yang kuat dalam menghadapi berbagai tantangan.


Penerapannya dimulai dengan memanggil potensi unsur manusia yang ada di masyarakat nagari.


Kesadaran akan adanya benih kekuatan dalam diri anggota masyarakat hukum adat untuk kemudian digali dan digerakkan melalui penyertaan aktif dalam proses pembangunan nagari.


Melalui kegiatan bermasyarakat itu pula observasinya dipertajam. Daya pikirnya ditingkatkan. Daya geraknya didinamiskan. Daya ciptanya diperhalus.


Daya kemauan masyarakat dikembangkan untuk percaya kepada diri sendiri. Tujuannya sampai kepada taraf yang memungkinkan untuk mampu berdiri sendiri dan membantu nagari tanpa mengharapkan balas jasa atas dasar kesepakatan bersama yang menjadi ”kesadaran kolektif” di dalam pergaulan masyarakat dan tatanan kehidupan bersama.


Optimisme banagari mesti selalu dipelihara. Alah bakarih samporono, Bingkisan rajo Majopahik, Tuah basabab bakarano, Pandai batenggang di nan rumik.


Pembentukan karakter atau watak berawal dari penguatan unsur unsur perasaan hati (qalbin Salim) menghiasi nurani manusia dengan nilai luhur yang tumbuh mekar dengan kesadaran kearifan dan kecerdasan budaya diperhalus oleh kecerdasan emosional dan dipertajam kemampuan periksa atau kecerdasan rasional intelektual yang dilindungi oleh kesadaran yang melekat pada keyakinan spiritual yakni hidayah Islam.


Watak yang sempurna dengan nilai nilai luhur (akhlaqul karimah) melahirkan tindakan terpuji dengan motivasi (nawaitu) yang bersih (ikhlas).


Kelemahan mendasar pada dasarnya karena melemahnya jati diri. Kurangnya komitmen kepada nilai-nilai luhur agama karena tindakan isolasi diri. Kurang menguasai politik, ekonomi, sosial budaya, lemahnya minat menuntut ilmu.


Kelemahan internal akan menutup peluang berperan serta dalam kesejagatan. Semakin parah karena pembiaran tanpa kawalan atau karena dorongan hendak menghidupkan toleransi. Padahal tasamuh itu memiliki batas-batas tertentu pula.


Peran mempersiapkan generasi Sumatera Barat tudak boleh abai yang mempunyai bekal mengenali sejarah, latar belakang masyarakat, kondisi sosial ekonomi, tamadun, budaya dan adat-istiadat dengan berbudi bahasa yang baik.


Diperlukan Kerja Keras Untuk Meningkatkan Mutu SDM anak nagari diantaranya;


Penguatan potensi yang sudah ada (urang ampek jinih, tungku tigo sajarangan) melalui program utama yakni kebersamaan (gotong royong).

Memperkuat SDM bertujuan membentuk masyarakat beradat dan beragama sebagai suatu identitas yang tidak dapat ditolak dalam satu konsepsi tata cara hidup, sistem sosial dalam iklim adat basandi syara’ syara’ basandi Kitabullah.

Mengokohkan pemahaman agama, sehingga anak negari menjadi sehat rohani, menjaga terlaksananya dengan baik norma-norma adat, sehingga anak nagari menjadi masyarakat beradat yang beragama (Islam).

Menggali potensi SDA yang ada di nagari selaras dengan perkembangan dan strategi menguatkan ketahanan ekonomi rakyat.

Membangun kesejahteraan bertolak dari pembinaan unsur manusia dari menolong diri sendiri (self help) kepada tolong-menolong (gotong royong atau mutual help) sebagai puncak nilai budaya adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah.

Gotong royong adalah strategi membangun masyarakat adat melalui pembagian pekerjaan atau ber-ta’awun sesuai dengan anjuran Islam.

Gambar


Strategi membangun masyarakat adat berdasar pemahaman ABSSBK atau taraf ihsan sesuai ajaran Kitabullah dalam agama Islam dengan “memperindah nagari” dengan indikator utama adalah ;


a) Pencapaian moral adat. Nan kuriak kundi, nan sirah sago, nan baik budi nan indah baso. Atau dapat disebut sebagai karakter building.


b) Efisiensi organisasi pemerintahan nagari dengan mendudukkan kembali komponen masyarakat pada posisi subyek di nagari. Pemeranan fungsi fungsi elemen masyarakat.


c) Membentuk masyarakat beradat dan beragama sebagai suatu identitas dalam satu konsepsi tata cara hidup, sistem sosial dalam iklim adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah, Maka kekuatan moral yang dimiliki, ialah menanamkan “nawaitu” dalam diri masing-masing.


Untuk membina umat dalam masyarakat desa harus di ketahui pula kekuatan. Latiak-latiak tabang ka Pinang, Hinggok di Pinang duo-duo, Satitiak aie dalam piriang, Sinan bamain ikan rayo.


Strategi membangun masyarakat adat akan berhasil manakala selalu kokoh dengan prinsip, qanaah dan istiqamah. Berkualitas dengan iman dan hikmah. Berilmu dan matang dengan visi dan misi. Amar makruf nahyun ‘anil munkar dengan teguh dan professional. Research-oriented berteraskan iman dan ilmu pengetahuan.


Maka peran dan Fungsi Pemerintahan Terdepan adalah menghidupkan lembaga tungku tigo sajarangan sebagai institusi penting dalam masyarakat Minangkabau sejak dulu yang telah berhasil membawa umat dengan informasi dan aktifiti, kepada keadaan yang lebih baik dalam Implementasi dan Pelestarian ABSSBK.


Strateginya dengan menanamkan kearifan bahwa apa yang ada sekarang akan menjadi milik generasi mendatang.


Ada kewajiban menularkan warisan luhur budaya kepada generasi pengganti secara lebih baik dan lebih sempurna agar tetap berlangsung proses timbang terima kepemimpinan secara estafetta alamiah.


Kekerabatan yang erat menjadi benteng yang kuat dalam menghadapi berbagai tantangan.


Kekerabatan tidak akan wujud dengan meniadakan hak-hak individu orang banyak.


Provinsi Sumatera Barat dengan Filosofi Adat Budaya Minangkabau yaitu ABSSBK mestinyaD tumbuh dengan komitmen fungsionalD bermutu tinggi seiring kemampuan penyatuan konsep-konsep dengan alokasi sumber dana.


Perencanaan kerja secara komprehensif akan mendorong terbinanya center of excelences.


KHULASAH

Semua fungsionaris formal suku dan kaum senyatanya adalah kekuatan sosial yang efektif.


Terbukti bahwa Nagari lebih banyak dibangun dengan kekuatan anak nagari sendiri. Bahkan sedikit sekali yang bergantung kepada APBNasional atau APBDaerah.


Maka Nagari semestinya menjadi media pengembangan pemasyarakatan budaya sesuai dengan adagium “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah melalui pendidikan ketauladanan dalam mencapai derajat peribadi taqwa serta melaksanakan kegiatan dakwah Islam terhadap masyarakat anak nagari.


Di nagari mesti di lahirkan media pengembangan minat menyangkut aspek kehidupan ekonomi, sosial, budaya dan politik dalam mengembangkan kemasyarakatan yang adil dan sejahtera.


Spiritnya adalah


(a). Kebersamaan (sa-ciok bak ayam sa-danciang bak basi).


(b). Keterpaduan (barek sa-pikua ringan sa-jinjiang).


(c). Musyawarah (bulek aie dek pambuluah, bulek kato dek mupakat), dalam kerangka “Senteng ba-bilai, Singkek ba-uleh, Ba-tuka ba-anjak, Barubah ba-sapo”.


(d). Keimanan yang kuat kepada Allah SWT sebagai pengikat spirit tersebut dengan menjiwai sunnatullah dalam setiap gerak.


(e). Mengenal alam keliling “Panggiriak pisau sirauik, Patungkek batang lintabuang, Satitiak jadikan lauik, Sakapa jadikan gunuang, Alam takambang jadikan guru ”.


(f). Kecintaan ke nagari menjadi perekat yang sudah dibentuk oleh perjalanan waktu dan pengalaman sejarah.


(g). Menjaga batas-batas patut dan pantas, jangan terbawa hanyut materi dan hawa nafsu yang merusak.


Semestinya peranan dan fungsi strategis Pemerintahan Terdepan di Nagari bersama sama dengan Ninik Mamak, Alim ulama, Cerdik Pandai dan Bundo Kanduang sebagai suluah bendang di nagari nagari dalam membangun serta menjaga nagari-nagari yang tertata rapi menapak alaf baru di Sumatera Barat (Minangkabau) dalam implementasi dan pelestarian ABS-SBK. Insya Allah.


Padang, 5 Juli 2020 M / 13 Dzulqa’dah 1441H




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment